Dengan senang hati membantu Anda. Bila ada pertanyaan jangan ragu untuk bertanya kepada Kami. Klik di bawah ini untuk memulai chat
Mengapa Hati Tertutup hingga Meninggalkan Shalat Jumat? Tanda dan Solusinya
Shalat Jumat adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki yang telah baligh dan tidak memiliki uzur syar’i. Namun, tak jarang kita menemukan orang-orang yang mulai meninggalkan ibadah ini dengan berbagai alasan—entah karena sibuk, malas, atau merasa tidak butuh. Padahal, Rasulullah ﷺ telah memperingatkan bahwa meninggalkan shalat Jumat tanpa alasan yang dibenarkan bisa menjadi tanda tertutupnya hati.
Lalu, mengapa hal ini terjadi? Apa tanda-tanda hati yang mulai tertutup, dan bagaimana solusinya?
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ
“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat karena meremehkannya, Allah akan menutup hatinya.” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa sikap meremehkan shalat Jumat bisa menjadi pintu bagi kerasnya hati. Hati yang tertutup akan sulit menerima kebenaran, merasa berat dalam beribadah, dan bahkan mungkin terjerumus dalam maksiat lainnya.
Beberapa ciri yang menunjukkan bahwa hati seseorang mulai mengeras karena meninggalkan kewajiban agama, termasuk shalat Jumat:
Malas beribadah: Shalat sering ditunda-tunda, bahkan ditinggalkan.
Tidak tersentuh oleh nasihat: Ayat Al-Qur’an atau khotbah Jumat tidak lagi membekas di hati.
Lebih memilih duniawi: Sibuk dengan urusan dunia sampai melupakan kewajiban akhirat.
Mudah melakukan maksiat: Hati yang keras membuat seseorang semakin mudah terjerumus dalam dosa.
Beberapa faktor yang sering menjadi alasan orang meninggalkan shalat Jumat:
Sibuk dengan pekerjaan atau urusan dunia.
Malas dan lebih memilih istirahat.
Tidak merasa pentingnya ibadah ini.
Lingkungan yang tidak mendukung (misalnya, teman-teman yang juga malas shalat Jumat).
Namun, semua alasan ini sebenarnya bersumber dari satu masalah utama: lemahnya iman dalam hati.
Jika Anda atau orang terdekat Anda mulai merasakan tanda-tanda di atas, berikut beberapa langkah untuk memperbaiki diri:
Renungkan: “Mengapa aku bisa sampai meremehkan kewajiban dari Allah?”
Ingatlah bahwa shalat Jumat adalah perintah langsung dari Allah (QS. Al-Jumu’ah: 9) dan Rasul-Nya.
Hati yang keras bisa dilunakkan dengan taubat dan istighfar. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah noda hitam. Jika ia meninggalkannya, beristighfar, dan bertaubat, hatinya akan dibersihkan.” (HR. Tirmidzi)
Lingkungan sangat mempengaruhi keimanan. Carilah teman yang selalu mengingatkan untuk shalat Jumat dan ibadah lainnya.
Awali dengan niat yang kuat, lalu disiplin untuk hadir ke masjid setiap Jumat. Allah berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)
Agar semangat menghadiri shalat Jumat, ingatlah keutamaannya:
Diampuni dosa-dosa antara Jumat yang satu ke Jumat berikutnya (HR. Bukhari & Muslim).
Hari yang penuh berkah, termasuk waktu mustajab untuk berdoa.
Pahala besar bagi yang datang lebih awal ke masjid.